Sinusitis
August 22, 2020
Penyakit Asma
August 24, 2020

Senggugu, Berkhasiat Mengencerkan Dahak

Pohon senggugu dikenal sebagai bahan utama terapi atau pengobatan gurah di daerah Jawa. Pohon senggugu banyak digunakan dalam praktik gurah, karena berkhasiat sebagai mukolitik (berkhasiat mengencerkan mukus atau dahak kental sehingga mudah dikeluarkan).

Gurah adalah metode pengobatan tradisional ramuan, dahulu dilakukan oleh para penyanyi agar suara jadi merdu dan tidak serak. Gurah juga dipercaya bisa membantu mengobati berbagai penyakit yang terkait dengan saluran napas, seperti batuk, bronkhitis, sinusitis, asma.

Senggugu adalah nama tumbuhan liar, mudah kita jumpai di tempat terbuka seperti di hutan, padang ilalang, tepi jalan dan lain-lain, dan memiliki bunga berwarna ungu dan putih serta daun yang lancip, dengan tepian yang tidak rata atau bergerigi.

Senggugu, yang di India disebut bharangi, dikutip dari herbalcureindia.com, dikenal dalam pengobatan ayurveda India efektif mencairkan lendir, sangat bermanfaat untuk mengobati masalah pernapasan seperti pilek, bronkhitis, asma bronchial, dan tuberkulosis.

Demikian juga penelitian yang dilakukan Wahyono, dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, 1998, Yogyakarta, berjudul “Isolasi Senyawa Bioaktif dari Kulit Akar dan Kulit Batang Clerodendron serratum, Spreng., yang Berkhasiat Sebagai Mukolitik”. Penelitian itu membuktikan ekstrak kulit akar senggugu dapat menurunkan viskositas larutan mukus atau mempunyai aktivitas sebagai mukolitik.

Pemerian Botani Tanaman Senggugu

Senggugu merupakan tumbuhan yang termasuk dalam salah satu jenis keluarga Verbenacea. Senggugu termasuk tumbuhan perdu yang tingginya dapat mencapai 3,5 m. Batang tumbuhan senggugu berbentuk bulat, berkayu, dengan percabangan simpodial, dan berwarna putih kecokelatan.

Senggugu memiliki daun tunggal dengan letak berhadapan. Daun senggugu yang tumbuh berseling, berbentuk bulat telur dengan ujung daun dan pangkal meruncing. Tepi daun tanaman senggugu bergerigi dengan tulang daun yang menyirip berwarna hijau tua.

Bunga senggugu ini majemuk yang muncul pada ujung batang, berbentuk seperti lonceng. Bunga senggugu memiliki warna hijau keunguan. Mahkota bunga senggugu terdiri atas 5 daun berwarna ungu keputihan. Kepala sari sarinya kuning tua, putik lebih panjang daripada benang sari, bagian bawahnya berwarna putih dan semakin ke atas warnanya akan semakin berubah menjadi ungu.

Buah tumbuhan senggugu ini termasuk buah buni berbentuk bulat telur, saat masih muda berwarna hijau dan setelah tua berwarna hitam. Akarnya merupakan akar  tunggang, dan berwarna cokelat.

Tumbuhan senggugu ini hidup di daerah yang mempunyai sinar matahari dan curah hujan yang cukup.

Senggugu, dikutip dari undip.ac.id, dikenal dengan nama yang berbeda di berbagai daerah, misalnya senggugu (Melayu), singgugu (Sunda), srigunggu, sagunggu (Jawa), kertase, pinggir tosek (Madura), sinar baungkudu (Batak Toba), tinjau handak (Lampung).

Di Tiongkok, tumbuhan ini dikenal dengan nama san tai hong hua, sementara dalam bahasa Indi tumbuhan ini dikenal dengan nama bharangi.

Sedangkan nama ilmiah tumbuhan senggugu, menurut Wikipedia adalah Clerodendron serratum, L., Spr. Tumbuhan ini menurut sejarah berasal dari daerah Asia Tropik.

Senggugu mengandung kalium, natrium, alkoloid, flavanoid flavon, manitol, triterpenoid, asam queretaroat, asam serratogenat, glikosida fenol, dan sitosterol.

Manfaat Herbal Tanaman Senggugu

Senggugu (Clerodendron serratum, L., Spreng), dikutip dari wima.ac.id, adalah tanaman yang digunakan dalam pengobatan tradisional dan memiliki banyak aktivitas farmakologi seperti antiinflamasi, antioksidan, hepatoprotektif, antifertilitas, dan antikanker.

K Heyne dalam bukunya, “Tumbuhan Berguna Indonesia”, yang diterjemahkan Badan Litbang Kehutanan, Jilid III, Edisi I, 1986, Departemen Kehutanan, Jakarta, menyebutkan seduhan kulit akar senggugu dapat digunakan untuk asma, bronkhitis, peluruh air seni, obat batuk, dan untuk memperoleh suara jernih.

Dikutip dari herbalcureindia.com, kulit batang senggugu mengandung senyawa triterpenoid, asam oleanolat, asam queretaroat, dan asam serratogenat. Sedangkan kulit akar mengandung glikosida fenol, manitol, dan sitosterol. Ekstrak alkohol dan saponin yang diisolasi dari kulit akar menyebabkan pelepasan histamin dari jaringan paru.

Batangnya mengandung D-mannitol, D-glukosida sitosterol, sitosterol, dan setil alkohol. Daun banyak mengandung kalium, sedikit natrium, alkaloid, dan flavonoid. Daun yang dioleskan secara eksternal, mengurangi pembengkakan kelenjar dan mempercepat penyembuhan luka.

Tim peneliti dari Departemen Farmasi, Rumah Sakit Distrik Pengobatan Weiyang Xi’an, Shanxi, dan Universitas Kedokteran Tiongkok Gansu, Tiongkok, melakukan studi farmakologi, dan menunjukkan bahwa senyawa dan ekstrak tumbuhan dari genus Clerodendrum ini memiliki aktivitas yang luas, seperti antiinflamasi dan anti-nociceptive, antioksidan, antihipertensi, antikanker, antimikroba, antidiare, hepatoprotektif, hipoglikemik dan hipolipidemik, meningkatkan memori, neuroprotektif, dan kegiatan lain.

Tim peneliti dari Rungta College of Pharmaceutical Kohka Road,Kurud, Bhilai India, meneliti senggugu dengan pendekatan klinis, secara tradisional. Tumbuhan ini  telah digunakan sebagai antirematik, antiasma, obat penurun panas, dicephalagia dan ophthalmia. Akar senggugu juga digunakan sebagai antioksidan, antibakteri, dan anti jamur.

Wikanti Deviantari, dari Program Pendidikan Sarjana Fakultas Kedokteran, meneliti pengaruh akut pemberian ekstrak etanol kulit akar senggugu terhadap gambaran hispatologis ginjal mencit Balb/c. Penelitian itu diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi persyaratan dalam menempuh Program Pendidikan Sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang.

Kesimpulan penelitiannya menyebutka terdapat perbedaan gambaran histologi ginjal mencit Balb/c berupa edema tubulus proksimal antara kelompok yang tidak diberi ekstrak senggugu dan yang diberi sesuai dengan meningkatnya dosis. Infus daun senggugu secara in vitro dapat menghancurkan batu ginjal.

Pingkan Marsel dari Fakultas Farmasi Universitas Widya Mandala Surabaya, meneliti uji sitotoksisitas ekstrak etanol dan senyawa alkaloid hasil fraksinasi ekstrak etanol daun senggugu dengan metode brine shrimp lethality test. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pontensi sitotoksisitas dari ekstrak etanol dan senyawa alkaloid hasil fraksinasi ekstrak etanol daun senggugu terhadap larva Artemia salina, Leach.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Biaya Sukarela
//]]>